Prélude
Beberapa waktu belakangan, saya sering menonton dan/atau mendengarkan siniar The Reading Chamber. Siniar ini membahas tentang berbagai hal dan mengaitkannya dengan buku-buku yang sudah mereka baca. Siniar inilah yang menginspirasi saya untuk memulai seri blog “Ulas Buku”. Di seri ini saya akan membahas hal-hal yang saya pelajari dari buku yang sudah dibaca. Saya juga mengusahakan adanya keterkaitan antar buku yang akan dibahas.
Pada episode pertama seri blog ini, saya akan membahas buku terbitan TEMPO dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yakni HATTA: Jejak yang Melampaui Zaman dari seri bapak bangsa.
Tentang Buku
Seri Bapak Bangsa terbitan TEMPO dirilis untuk mengingat 100 tahun para pahlawan pendiri bangsa: Sukarno pada 2001, Mohammad Hatta 2002, dan Sutan Sjahrir 2009.
Buku HATTA kini sudah mencapai cetakan ke-14 (Januari 2026), cetakan inilah yang saya baca. Buku biografi ini tebalnya tak lebih dari 200 halaman, isinya membahas kehidupan HATTA secara mendalam.
Tim TEMPO telah banyak mencari tahu masa mudanya di tanah Minang, kisah rantau di negeri sang musuh, tempat pengasingannya di Banda Neira dan Digul, sampai dengan akhir masa hidupnya. Mereka cukup niat melakukan pencarian ini, bahkan sampai terbang ke Belanda.
Hasil pencarian ini juga dijahit dengan ciamik, tidak lupa dibarengi dengan foto-foto yang terkurasi oleh TEMPO. Ini membuat saya sebagai pembaca tak sabar untuk terus membalik halaman.
Jika Anda merasa penasaran dengan kisah hidup Hatta, saya menyarankan untuk membaca buku tersebut secara langsung. Karena, pada bagian selanjutnya saya hanya akan membagikan tiga fakta Bung Hatta yang menurut saya istimewa.
Tiga Fakta tentang Hatta
1. Buku adalah cinta pertama Hatta.
“Kekasih Hatta adalah buku, buku, dan buku.” hlm. 124 (Cerita tentang “Para Kekasih”)
Kecintaan Hatta terhadap buku sangatlah besar. Ia punya 12 peti berisi buku, yang ikut dibawanya sampai ke tanah pengasingan. Di tanah pengasingan pun, Hatta masih sering membeli dan membaca buku.
Hadiah pengantin Hatta kepada Rahmi Rachim adalah sebuah buku, buku yang ia tulis saat pembuangan di Digul. Ibundanya sampai marah dengan putranya itu. Tak heran, pada umumnya orang memberikan sesuatu yang berharga untuk calon istri mereka. Sedangkan Hatta justru menghadiahkan sebuah buku buatan tangannya sendiri.
Bagi Hatta, buku memang sangat berharga. Ia sungguh menghargai ilmu pengetahuan.
Saya sendiri cukup setuju bahwa harga suatu ilmu di dalam buku jauh lebih mahal dibanding harga jual buku itu sendiri. Tapi tetap saja, orang umumnya mengharapkan kado yang berharga dari nilai uangnya. Dan menurut saya Hatta sangat berani untuk memberikan kado itu.
2. Selalu tepat waktu.
“Para pekerja perkebunan setempat hafal betul, Hatta selalu jalan-jalan sore secara rutin pada jam yang sama.[…] Saking rutin dan tepat waktu, Hatta dijadikan jam.” hlm. 102 (Dia yang Tak pernah Tertawa)
Kehidupan Hatta sangatlah terjadwal sedemikian rupa sampai orang-orang yang mengenalnya pun ikut hafal. Di buku ini, anak kedua Hatta (Gemala) menceritakan betapa tepat waktu Hatta dalam menjalani kesehariannya. Hatta mulai bangun tidur pukul 4.30, dilanjut salat Subuh, dan berolahraga selama 1 jam.
Disiplin yang dimiliki Hatta sangatlah kuat, dalam rutinitas jalan-jalan sorenya sangat jarang berhenti hanya untuk mengobrol dengan orang yang kebetulan ditemuinya.
Salah satu pembantu Hatta lebih memilih untuk melambatkan jamnya sepuluh menit daripada harus berhadapan dengan Hatta.
Ini sungguh berkebalikan dengan kebanyakan orang Indonesia yang punya budaya jam karet (molor/ngaret). Andai jam karet bisa diakumulasi, mungkin dalam seminggu saya bisa mendapat minimal 4 jam waktu luang.
3. Melarat di akhir hayat.
Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil presiden pada tahun 1957. Ia melakukannya karena merasa tak kuat dengan Sukarno yang makin otoriter.
Setelahnya, Hatta pernah ditawari posisi komisiaris dan penasihat, tapi ia menolaknya. Padahal cukup dengan namanya saja Hatta bisa memperkaya diri, ia berkata “Apa kata rakyat nanti”.
Di usia senjanya, ia hidup dari tagihan ke tagihan.
Cadence
“Pemimpin berarti suri tauladan dalam segala perbuatannya….” hlm. 56 (Di Lereng Gunung Menumbing)
Ada perasaan tersendiri saat membaca buku biografi/memoir. Empati dan kekaguman yang ditujukkan pada orang yang benar-benar pernah hidup. Berbeda dengan tokoh novel yang kadang karakter dan plotnya terasa artifisial. Pelajaran hidup yang diperoleh juga lebih berbobot karena diambil dari kisah hidup seseorang. Dan pelajaran hidup yang didapat tentunya akan berbeda tergantung interpretasi pembaca.
Bagi saya, Hatta adalah orang Indonesia pertama yang saya jadikan idola. Pribadi Hatta sangatlah menarik dan patut dijadikan teladan. Apalagi di zaman yang semakin gila ini.
Ocehan pemengaruh (influencer) jauh lebih didengarkan daripada pendapat para pakar dan isi buku. Semua orang jadi haus perhatian, menguras waktu satu sama lain. Bahkan menyebarkan berita bohong demi meraup keuntungan.
Dalam benak saya, ada sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul setelah membaca buku non-fiksi:“Komentar macam apa yang akan ia ungkapkan saat melihat zaman sekarang?”
Komentar
Posting Komentar