Dulu saya adalah pembeli buku yang naif. Saya hanya membeli buku yang topiknya menarik dan harganya sepadan dengan jumlah halaman yang ditawarkan. Padahal nilai suatu buku tidak dilihat dari tebal-tipisnya buku tersebut.
Platform "goodreads" yang menjadi tempat mengulas buku bisa kita jadikan rujukan. Di sana, harga buku dan jumlah halaman nyaris tak ada korelasinya dengan rating para pembaca.
William Zinsser, dalam bukunya "On Writing Well", bersabda bahwa inti dari menulis adalah menulis ulang. Kalimat sempurna yang ada di buku, majalah, koran sudah melalui tahap penyuntingan berulang kali dan itu bukan kebetulan. Sehingga setiap kata pada tulisannya punya peran masing-masing dan tak bisa dikurangi lagi, sesuai dengan prinsip singkat, padat, dan jelas.
Salah satu buku teknis yang terkenal dengan penjelasannya yang padat adalah "The C Programming Language" karya Brian Kernighan dan Dennis Ritchie. Buku ini menjelaskan bahasa pemrograman C dengan penjelasan yang super padat. Buku teknis serupa umumnya butuh 500 halaman lebih untuk menjelaskan konsep-konsep pemrograman, sedangkan buku ini ditulis hanya dalam 280-an halaman. Salah satu alasan kenapa buku ini bisa sangat singkat adalah target pembaca yang sudah jelas sejak awal.
Namun, teks singkat harus digunakan dengan bijak, bergantung pada target pembaca dan pesan yang ingin kita sampaikan. Sangatlah ceroboh jika kita mengharapkan simpati pembaca dari tulisan yang ditulis seperti textbook. Begitu juga bertele-tele saat menjelaskan suatu konsep pada textbook.
Contoh lain dapat kita dalam kehidupan sehari-hari, yakni saat berkirim pesan. Kalau boleh jujur, saat menulis pesan penting untuk orang lain, saya sendiri sering mengirimkan pesan panjang. Bukan karena punya waktu, tapi justru karena ditulis buru-buru. Termasuk tulisan ini yang saya tulis dengan terpaksa karena pernah berkomitmen untuk mengunggah tulisan dua minggu sekali.
Komentar
Posting Komentar