 |
| Gambar 1: Foto Jejak Bintang (Sumber: Dok. Pribadi, 25/05/2025) |
Setahun yang lalu, saya menyibukkan diri untuk memotret langit malam. Orang bilang inti dari memotret adalah menangkap cahaya, atau frasa yang lebih puitis, melukis dengan cahaya.
Sayangnya, apa yang saya lihat berbeda dengan apa yang ditangkap kamera kecil ponsel saya.
Bintang-bintang tersebut berjarak belasan, ratusan ribu, bahkan jutaan tahun cahaya. Dalam waktu tersebut, cahaya berpindah tempat melintasi ruang hampa hingga sampai ke mata. Cahaya yang sampai ke Bumi adalah cahaya yang sudah dipancarkan jauh di masa lampau. Yang kita lihat di langit adalah masa lalu.
Tak heran, hasilnya sudah redup dan tidak akan seterang Matahari yang mampu memengaruhi panas-dingin Bumi kita. Redup masih tak cukup, cahaya itu masih harus bergelut dengan lampu perkotaan. Bahkan di kota kecil tempat saya tinggal. Untungnya, polusi cahaya saat itu belum terlalu buruk. Saya masih bisa melihat konstelasi Scorpius dengan jelas.
Sekalipun begitu, pemotretan normal menggunakan ponsel tidaklah cukup untuk menangkap bintang yang remang-remang. Salah satu pokok astrofotografi adalah melakukan taktik-taktik khusus untuk menangkap lebih banyak cahaya dari objek langit. Beberapa taktik yang umum dilakukan di antaranya:
- Memperbesar luas penampang sensor. Ukuran sensor pada telepon genggam lebih kecil dibanding kuku jari kelingking, satu-satunya cara memperluas sensor adalah ganti perangkat sepenuhnya. Seperti kamera profesional, yang memiliki ukuran sensor tak kurang dari koin seribu rupiah.
- Memperlebar celah pada lensa kamera. Pada beberapa lensa kamera profesional, bukaan lensa (aperture) dapat dipersempit ataupun diperlebar. Namun, ini tidak berlaku untuk mayoritas telepon genggam.
- Meningkatkan sensitivitas sensor (ISO). Ini bisa dilakukan baik pada kamera profesional maupun telepon genggam. Namun, ada harga yang harus dibayar: semakin tinggi ISO, semakin banyak efek bintik-bintik (noise) pada hasil tangkapan.
- Memperpanjang durasi pemotretan/eksposur. Pada taktik ini, kamera akan diekspos oleh cahaya selama periode yang ditentukan sejak tombol rana ditekan. Saat itu juga, pergerakan kamera harus ditiadakan sama sekali agar hasil foto tidak kabur.
- Menghindari bulan purnama jika objek yang dipotret adalah bintang. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan kalender hijriah atau lihat saja ke langit.
Satu-satunya kamera yang saya miliki ada pada ponsel saya. Saya percaya pada kutipan
“The best camera is the one you have with you.”
Sungguh benar, kamera ponsel jauh lebih baik dibanding tidak ada kamera sama sekali. Untungnya, program kamera pada ponsel pintar saya memiliki mode “PRO” dan memungkinkan saya untuk menggunakan taktik 3 dan 4.
Pukul empat subuh, saya beranjak ke ruang terbuka di tengah rumah. Langit terpantau bersih tanpa awan. Terlihat gemerlap bintang menghiasi langit, dikelilingi ruang hampa yang gelap. Tanpa pikir panjang, saya bergegas menyiapkan tripod, mengonfigurasi kamera, dan menekan tombol rana.
 |
Gambar 2: Galaksi Bimasakti (Sumber: Dok. Pribadi, 23/04/2025)
|
Saya cukup terkejut kamera ponsel saya dapat memotret Galaksi Bimasakti dengan baik. Padahal mata telanjang saya tidak mampu melihat secercah cahaya pun dari inti galaksi. Ini terjadi karena kamera diekspos selama beberapa saat baru bisa diperoleh hasilnya, berbeda dengan cara mata kita bekerja.
Foto di atas diambil dengan durasi eksposur 10 detik. Di tengah, Anda bisa melihat pusat Galaksi Bimasakti yang memendarkan cahaya keemasan. Sementara di bagian bawah, ekor kalajengking dari konstelasi Scorpius dapat dikenali dengan mudah.
Nama-nama ini adalah cara manusia mencoba akrab dengan semesta. Bangsa barat menyebutnya Milky Way karena bentuknya yang menyerupai tumpahan susu di langit malam. Sementara nenek moyang kita, memberikan nama Bimasakti karena mirip dengan tokoh pewayangan sang Bima yang dililit naga.
Galaksi Bimasakti terbentuk 13 miliar tahun lalu, hanya beberapa saat setelah Big-Bang. Benda itu baru memperoleh namanya, jauh, jauh setelah manusia muncul sekitar 200.000 tahun yang lalu.
Rasi Scorpius punya nasib yang sama, ia semata-mata diciptakan oleh manusia dengan membuat garis khayalan antarbintang menyerupai bentuk kalajengking. Padahal, bintang-bintang penyusun rasi ini teramat sangat berjauhan, dan hampir tak punya hubungan.
Saya teringat dengan apa yang dibayangkan oleh Carl Sagan, astronom Amerika Serikat, pada bukunya Cosmos (1980). Pada bab 7, tulang punggung malam, ia membayangkan apa yang mungkin dipikirkan oleh nenek moyang kita:
“We would lie back in the dark and look up at all the points of light. Some points would come together to make a picture in the sky [...] We would sit around late at night and make up stories about the pictures in the sky: lions, dogs, bears, hunterfolk. Other, stranger things.”
Nenek moyang kita selalu mengamati bintang. Keberadaan singa, anjing, manusia setengah kuda, memberikan mereka isyarat kapan musim akan berganti. Seolah langit adalah arloji yang mereka gunakan.
Bicara tentang arloji, terdapat satu bintang yakni Polaris dari rasi Ursa Minor yang tampaknya tidak pernah bergerak selayaknya poros arloji. Ini disebabkan oleh letaknya yang hampir lurus dengan poros utara Bumi.
 |
| Gambar 3: Hasil teknik astrofotografi "Star Trails" (Sumber: Wikimedia Commons) |
Anda pasti sering melihat foto serupa, bintang-bintang bergerak seolah mengitari sesuatu. Padahal sebenarnya Bumi kitalah yang berputar, berotasi dari barat ke timur.
Foto di atas dibuat dengan memotret langit setiap periode tertentu selama durasi tertentu. Foto-foto yang diperoleh nantinya ditumpuk pada proses pengeditan sehingga pergerakan bintang dapat terekam dalam satu foto.
Saya ingin mencobanya dengan ponsel saya yang pintar itu. Sayangnya, ponsel saya tidak terlalu pintar untuk mengambil foto secara otomatis. Saya perlu menekan tombol rana secara manual.
Selain tombol rana pada layar sentuh, tombol volume baik pada ponsel maupun headset juga dapat digunakan untuk mengambil foto. Headset, ini bisa saya manfaatkan.
Saya bisa membuat perangkat yang “menyimulasikan” seolah tombol volume telah ditekan melalui headset untuk menangkap gambar. Proses ini akan dilakukan setiap periode tertentu dan banyak foto yang bisa dikonfigurasi. Untuk menggunakannya, perangkat ini dihubungkan ke ponsel saya melalui lubang audio 3.5mm. Pada dunia fotografi, perangkat semacam ini disebut intervalometer.
Saya tidak ingin membahas banyak hal teknis di sini. Perangkat ini saya buat dengan pekerjaan berat yang sebagian besar ditangani Akal Imitasi (AI). Mulai dari rangkaian komponen sampai dengan kode program. Tugas saya hanya menyambung kabel-kabel dan mengubah sebagian kecil kode.
 |
| Gambar 4: Antarmuka intervalometer berupa layar dan input dial (Sumber: Dok. Pribadi 09/05/2025) |
 |
| Gambar 5: ESP32 sebagai "otak" intervalometer (Sumber: Dok. Pribadi 09/05/2025) |
 |
| Gambar 6: Tangkapan layar setumpuk foto yang belum digabungkan (Sumber: Dok. Pribadi 20/04/2026) |
 |
| Gambar 7: Jejak bintang pertama (Sumber: Dok. Pribadi 08/05/2025) |
 |
| Gambar 8: Jejak bintang kubah selatan (Sumber: Dok. Pribadi 25/05/25) |
 |
| Gambar 9: Jejak singkat (Sumber: Dok. Pribadi 25/05/25) |
Dalam momen-momen istimewa, kita seringkali mengabadikan momen tersebut dengan mengambil foto. Membuat momen tersebut menjadi hampir abadi. Hampir abadi setidaknya sampai foto itu rusak atau hilang karena sebab apapun. Patut diakui bahwa tempat kita menyimpan foto tidak memiliki umur yang panjang, terutama jika dibandingkan dengan objek-objek antariksa.
Inilah kenapa, pada hemat saya, mengabadikan langit malam bukanlah pilihan kata yang tepat. Paling tidak untuk foto-foto yang saya tampilkan di atas.
Yang saya abadikan barangkali bukanlah langit malam, melainkan pengalaman saya. Suatu saat, saya pasti lupa kegiatan saya persis setahun yang lalu. Tulisan ini akan menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, dan membuat momen tersebut nyaris abadi.
Komentar
Posting Komentar